MAJALAH TEMPO REKENING GENDUT PERWIRA POLISI PDF

Polisi-yang-Disebut-Memiliki-Rekening-Gendut (accessed on July 25, ) .. Mengapa Majalah Tempo ‘Rekening Gendut Perwira Polisi” Diborong? June KAJIAN MAKNA DI BALIK SAMPUL MAJALAH TEMPO (Studi Kasus “Sampul Rekening Gendut Perwira Polisi”, edisi Senin, 28 Juni ). Berita Terkait: Kejagung Bersedia Usut Rekening Gendut Perwira Polri ke publik, terkait rekening perwira polisi seperti yang diinformasikan Majalah Tempo .

Author: Bakinos Dogami
Country: Mauritania
Language: English (Spanish)
Genre: Technology
Published (Last): 16 August 2013
Pages: 253
PDF File Size: 3.44 Mb
ePub File Size: 14.31 Mb
ISBN: 217-2-21109-365-1
Downloads: 36412
Price: Free* [*Free Regsitration Required]
Uploader: Moll

Polisi yang datang sendiri itu menyisir sejumlah kios di sentra buku tersebut.

Fakta12 : faktacom |

Ia menanyakan apakah para pedagang itu masih memiliki majalah Tempo edisi terbaru itu. Polisi tersebut adalah sama dengan orang yang memborong majalah Tempo di tempat itu sebelumnya. Buat apa majalah sebanyak itu? Seperti diketahui, puluhan ribu eksemplar majalah Tempo edisi terbaru hilang dari pasaran sejak Senin subuh. Edisi kali ini membuat laporan utama soal rekening jumbo para jenderal polisi. Laporan ini juga memuat indikasi rekening para jenderal di Mabes Polri yang mencurigakan.

Hasil analisis Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan menemukan ada puluhan miliar rupiah yang masuk ke rekening para Jenderal Polisi. Duit itu mengalir dari pihak ketiga tanpa kejelasan aktivitas bisnis yang dilakukan. Menurut Winda, sejumlah agen telah melaporkan kepada Tempo, adanya pembelian besar-besaran oleh sejumlah kelompok, begitu majalah bergambar polisi dengan tiga babi kecil itu akan dijual.

Pembelian itu dilakukan Senin dini hari hingga menjelang subuh, langsung ke sejumlah agen dan distributor. Edisi yang lenyap dari pasaran itu adalah edisi eceran untuk pembaca. Namun khusus untuk para pelanggan, kata Winda, tetap aman. Soal berapa yang akan dicetak, Winda belum bisa memastikan karena sedang melakukan pendataan. Peluncuran Buku dan Diskusi Sastra Dalam sejarah kebudayaan Indonesia modern, salah satu polemik sastra dan kebudayaan yang terus menerus menemukan gaungnya hingga masa kini adalah eksistensi Lekra.

Baik sebagai sebuah lembaga kebudayaan yang menaungi sebagian besar para seniman beridieologi kiri maupun karena tawaran estetikanya yang bersandar pada ideologi realisme sosial. Polemik antara para pendukung Lekra dan Manikebu yang mewarnai dinamika sastra dan kebudayaan Indonesia sejak akhir tahun an hingga munculnya tragedi berdarah pada bulan september menyisakan berbagai persoalan multidimensional yang tak pernah terselesaikan secara menyeluruh hingga masa kini.

Antara tahun an sampai polemik kebudayaan antara para pendukung Lekra dan Manikebu relatif berimbang. Lekra menawarkan model kebudayaan Indonesia yang bervisi kerakyatan dengan kecenderungan untuk menolak campur tangan tangan-tangan nekolim. Sementara itu, pada sisi yang lain, Manikebu yang mengedepankan visi humanisme Universal dengan mengambil titik berangkat bahwa kebudayaan Indonesia adalah bagian dari kebudayaan dunia. Rezim militer Orde Baru, lewat tangan-tangan kekuasaannya yang otoriter, kemudian mengkambing-hitamkan PKI beserta seluruh organisasi yang dianggap berafiliasi padanya.

Lekra, sebagai sayap kebudayaan PKI pun mengalami pukulan dalam aktivitas kebudayaannya. Para anggotanya banyak yang dipenjara atau disiksa -kalau tidak dibantai secara kejam- sementara karya-karya mereka dianggap sebagai bacaan terlarang. Organisasi, seluruh kegiatan seni dan budaya, dan para aktor-aktor Lekra mengalami pemarginalisasian secara menyedihkan. Memori bangsa Indonesia tentang Lekra dan aktivitas kebudayaannya secara sistematis berusaha dihapus oleh pemerintahan Soeharto yang anti-komunis.

Seiring jatuhnya rezim Orde Baru, dan diikuti dengan Orde Reformasi, muncul tuntutan dari berbagai pihak agar luka-luka sejarah kultural bangsa ini dibuka dan dimediasikan secara terbuka dan adil. Para penulis Lekra, yang di masa sebelumnya tak punya hak bersuara dan mempresentasikan hasil kreativitasnya, secara perlahan-lahan menemukan kembali hak mereka untuk bersuara.

  BOWRA THE ROMANTIC IMAGINATION PDF

Kegiatan dan estetika seni-budaya mereka kembali menemukan gairahnya kembali. Memori akan estetika dan aktivitas seni-budaya baik dari para seniman dan sastrawan Lekra maupun mereka yang secara ideologis terpengaruh oleh para seniman dan sastrawan tersebut hadir kembali di tengah-tengah berbagai ideologi, estetika, dan aktivitas seni dan budaya lain. Namun oleh beberapa pihak yang lain kondisi ini disikapi sebagai sebuah usaha untuk memberi ruang hidup dari salah satu elemen kebudayaan yang pernah hidup di tanah air dan mengalami keterpasungan kreativitas oleh rezim Orde Baru selama lebih daritiga dekade.

Dalam konteks inilah, diskusi buku-buku dari para penulis Lekra menjadi relevan untuk dihadirkan kembali di hadapan publik kesenian dan kebudayaan Indonesia, bukan hanya untuk memberi suara dari mereka yang semula terbungkam, namun juga memberikan ruang pedebatan yang terbuka dan adil dari seluruh pihak akan posisi Lekra dalam setting kebudayaan Indonesia dulu dan sekarang.

Generasi Indonesia yang tak pernah mengalami polemik panas antara Lekra dan Manikebu di era an dan an -mereka pula yang mengalami indoktrinasi massif Orde Baru atas sejarah Lekra- berhak mendapatkan informasi yang berimbang tentang Lekra dan karya-karyanya sehingga mereka sendiri yang nanti akan memiliki keputusan dimana posisi Lekra dalam setting kebudayaan Indonesia dulu, kini, dan masa mendatang. Acara ini akan diisi dengan kesaksian pelaku sejarah oleh Koesalah Soebagyo Toer serta pembacaan karya oleh Afnaldi saiful atau yang akrab disapa Sang Denai.

Sun, 27 Jun Selang hampir seminggu, teman saya ini mengajak saya makan disebuah restoran Padang. Wajahnya menyembunyikan sebuah keresahan. Ia bercerita tentang anaknya, wisuda disekolah dan pagelaran itu.

Dengan lirih ia bercerita bahwa semua pagelaran itu disampaikan dalam bahasa Inggris. Dan celakanya tidak ada satu-pun materinya bercerita atau berkisah tentang Indonesia.

Dalam wajah yang sangat risau, ia mengisahkan masa kecilnya, saat kakeknya bercerita tentang Sangkuriang, Ken Arok, Gajah Mada, Bandung Bondowoso, dan dongeng-dongeng legendaris lain-nya.

Ia bercerita bahwa permainan disaat senggang adalah halma, ludo, galah asin, petak umpet, dampu, tak kadal dan sejumlah nama yang mungkin tidak akan dikenal anak-anak sekarang. Komik dan dongeng yang mereka baca adalah Disney, Superman dan X-Men. Ini adalah kegelisahan yang merisaukan kami berdua. Bayangkan apa jadinya bila dalam 10 tahun mendatang anak Indonesia yang lancar berbahasa Indonesia tetapi bingung karena tidak mengerti Indonesia.

Malam harinya, saya diundang klien untuk makan malam disebuah restoran yang sedang populer disebuah mall megah di Jakarta. Saking populernya tempat itu, maka konsumen yang antri sangat banyak. Kebanyakan adalah anak-anak muda yang berusia antara 17 tahun hingga 22 tahun. Penampilan mereka hingar bingar.

Yang wanita berpenampilan bak bintang film. Rok mini, sepatu hak tinggi, celana jeans ketat dan atau baju tembus pandang. Demikian juga yang pria. Mirip penampilan pemain band dan para rockers. Sembari menunggu meja kosong, mereka asyik bercengkerama, sambil foto-foto dengan dengan telpon genggam mereka.

Bahasa dan senda gurau yang mereka lakukan semua dalam bahasa Inggris. Sepintas mereka kelihatan canggih dan warga dunia yang mengglobal.

  MAHATMA BRIAN GRATTAN PDF

Haunted By The Past

Apakah berbahasa Inggris lebih keren daripada bahasa Indonesia? Apakah kalau kita berbahasa Indonesia, kita dianggap orang dusun? Kenapa harus gemdut dan sok pamer berbahasa Inggris? Disudut hati, saya sangat risau dan gelisah, karena ingat perbincangan tadi siang.

Bahwa jati diri kita sebagai orang Indonesia terkikis erosi globalisasi. Malam itu kegelisahan saya melebar menjadi kesedihan.

Saya terkenang dengan diskusi saya beberapa tahun yang lalu, dengan mentor saya Mpu Peniti. Kami saat itu sedang berdiskusi tentang wayang dan cerita-ceritanya.

Sebagai orang Jawa, Mpu Peniti banyak mengajarkan saya soal filsafat lewat cerita-cerita perwayangan. Ini adalah momen-momen favorit saya. Beliau saat itu menyampaikan kerisauan yang sama, bahwa tak lama lagi berbagai seni budaya tradisional akan hilang satu demi satu, karena digilas roda jaman.

Diskusi dan percakapan kami kemudian melebar. Entah kenapa, kami juga bicara soal bahasa dan sastra Indonesia. Menurut Mpu Peniti bahasa Indonesia sedang pingsan.

Saya berseloroh dan menambahakan satu istilah — Cacat Sastra. Ia adalah produk lama yang kuno. Mengajar dengan naik sepeda ke sekolah. Celananya selalu dekil dan gombrang mirip celana di film-film perjuangan jaman kemerdekaan.

Rambutnya hampir putih semua. Kenangan itu hingga hari ini membekas dengan sangat sempurna. Gara-gara peristiwa itu, saya pernah bertekad ingin menjadi penyair terkenal. Sebagian mimpi itu saya jalani.

Haunted By The Past

Kerap mereka mengadakan lomba dan sayembara. Mulai dari temmpo hingga membaca. Saat itu sastra kita masih punya panggung yang resmi. Musnahnya sebagian panggung ini membuat sastra Indonesia semakin semaput. Hingga kini, cerpen masih cukup banyak peminatnya. Tetapi koran dan harian yang terbit memberinya ruang yang lebih terbatas saat ini Tidak seperti dulu disaat kita masih memiliki prrwira media sastra, dan majalah cerpen.

Saat itu cerpen memiliki kesempatan tampil lebih banyak. Bila cerpen kehilangan ruang publik untuk tampil, lama-lama cerpen cuma menjadi kesenian pribadi yang bersembunyi di laci tanpa bisa dinikmati orang banyak. Bila situasinya menjurus depresi, lama-lama cerpen juga akan dilupakan orang. Menerbitkan karya sastra juga tidak mudah. Andaikan anda ingin rekenung novel karya anda. Maka anda harus mencari penerbit yang besar dan punya akses distribusi yang baik.

Kalau buku anda dijual seharga 50 ribu, maka royalti anda hanya Rp. Celakanya toko buku di Indonesia, yang baik dan besar jumlahnya masih kurang dari toko.

Kalau satu toko menyimpan buku anda antara 5- 10 buku, maka jumlah cetakan yang paling ekonomis cuma 3. Karena toko buku tidak ada yang mau membeli putus dan hanya mau konsinyasi, maka royalti anda tidak akan diterima ketika buku selesai dicetak. Tetapi ketika buku sudah laku dan uang hasil buku sudah diterima penerbit anda.

Jumlah buku yang tercetak 3. Semata-mata geneut minat baca kita sangat rendah. Andaikata buku anda menjadi — Best Seller — dan terjual antara 1. Vonis akhirnya sastra tidak akan menjanjikan profesi dengan kemakmuran tinggi.

Situasi ini menyebabkan kita tidak memiliki orang yang berprofesi sastra penuh.